PT. Camar Indah Jaya Perkasa

cara kerja lift access control

Lift Access Control: Panduan Lengkap & Cara Kerjanya

Lift access control adalah sistem yang membatasi lantai mana saja yang bisa dituju setiap pengguna lift, baik itu lewat kartu akses, PIN, biometrik, atau aplikasi ponsel. Tujuannya satu, yaitu agar orang yang tidak berizin tidak bisa naik ke lantai yang bukan haknya.

Masalahnya, banyak gedung masih mengandalkan satpam di lobi sebagai satu-satunya penjaga. Begitu seseorang lolos lobi, lift membawanya ke lantai mana pun. Ruang server, ruang direksi, sampai unit penghuni terbuka lebar. Itu bukan sistem keamanan, itu keberuntungan.

Solusinya ada di dalam lift itu sendiri. Dengan lift access control yang dirancang dengan benar, setiap lantai punya “pintu digital” sendiri, lengkap dengan log siapa yang naik ke mana dan kapan. Ia juga menjadi bagian dari sistem keamanan gedung yang utuh. Simak penjelasan lengkapnya di bawah.

Siapa Saja yang Butuh Lift Access Control?

Jawaban dari pertanyaan ini adalah setiap gedung bertingkat yang punya area terbatas. Jika ada lantai yang tidak boleh dimasuki semua orang, Anda membutuhkan teknologi keamanan lewat lift access control.

1. Gedung Perkantoran

Ini sudah paling jelas. Satu lantai bisa dihuni tenant perusahaan yang berbeda-beda, dan lantai tertentu menyimpan data atau dokumen sensitif. Di apartemen, kebutuhannya soal privasi dan keselamatan penghuni, karena tamu atau kurir tidak diperbolehkan menjelajah semua lantai hunian.

2. Gedung Campuran

Maksudnya adalah kantor, ritel, hunian jadi satu, dan ini lebih rumit lagi. Pengunjung mal dan penghuni apartemen berbagi lobi yang sama, tetapi jalur naiknya wajib terpisah. Di hotel, hanya tamu yang memiliki kartu kamar yang boleh menuju lantai kamar. Begitu juga dengan rumah sakit yang butuh pembatasan untuk ruang operasi, farmasi, dan area steril.

Tanda Anda harus memasang lift access control apabila sering ada orang asing tiba-tiba masuk ke lantai kerja, tenant mengeluh soal keamanan, atau Anda tidak tahu siapa yang naik ke lantai tertentu semalam. Jika salah satunya terjadi, maka risikonya sudah nyata.

Rumah tinggal bertingkat dengan lift pribadi pun sudah banyak yang memasangnya. Jadi, bukan hanya urusan gedung besar saja. Bahkan pemerintah menyebut lift sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari apartemen, pusat perbelanjaan, perkantoran, hingga rumah tinggal.

Cara Kerja Lift Access Control

Prinsip kerjanya sederhana, pengguna cukup menempelkan kredensial, sistem akan memverifikasi, lalu hanya tombol lantai yang dituju yang diizinkan akan aktif. Di balik layar, ada tiga komponen utama, yaitu:

  • Pembaca (reader) di lobi atau di dalam kabin
  • Controller sebagai otak yang menyimpan hak akses
  • Modul relay yang terhubung ke panel kontrol lift

Saat kartu dibaca, controller akan mengecek hak akses pengguna. Jika valid, relay mengaktifkan tombol lantai tertentu saja. Jika tidak, tombol tidak merespon dan lift tetap diam. Dengan lift access control yang terpusat, admin bisa mencabut akses kartu yang hilang dari komputer, tanpa mengganti kunci fisik apa pun.

Ada dua pola pemasangan reader yang umum. Pertama, reader di dalam kabin, sehingga penumpang menempelkan kartu setelah masuk lift. Kedua, reader di lobi atau depan lift, yang biasanya dipakai bersama DCS. Perancang sistem juga perlu menentukan spesifikasi antarmuka dan jalur kabel ke dalam kabin, karena inilah bagian yang paling sering menimbulkan kendala di lapangan.

Lift access control juga mencatat setiap penggunaan. Saat ada insiden, tim keamanan bisa menelusuri siapa yang naik ke lantai tertentu pada jam tertentu. Data ini sering menjadi penentu dalam investigasi internal, dan itulah alasan banyak auditor keamanan meminta log lift saat menilai gedung.

Selain itu, ada satu hal yang tidak boleh ditawar, yaitu terkait keselamatan jiwa banyak orang. Dalam kondisi kebakaran, sinyal alarm kebakaran harus memiliki prioritas di atas pengaturan lift access control. Jika tidak, keamanan justru berubah menjadi jebakan. Standar fire service recall (Fase I dan II) memastikan lift kembali ke lantai evakuasi dan petugas pemadam bisa mengakses seluruh lantai. Pengelola gedung disarankan memastikan dengan vendor lift bahwa fitur ini tetap berfungsi setelah sistem akses dipasang.

Di Indonesia, lift juga tunduk pada peraturan Permenaker Nomor 6 Tahun 2017 tentang K3 Elevator dan Eskalator. Aturan ini mewajibkan pemeriksaan dan pengujian berkala minimal setahun sekali. Artinya, instalasi tambahan seperti lift access control sebaiknya dikerjakan teknisi yang paham dengan koordinasi dengan penyedia lift, bukan sekadar “tarik kabel lalu jadi”.

Jenis Lift Access Control yang Perlu Dipertimbangkan

Tidak ada satu jenis lift access control yang cocok untuk semua gedung. Pilihannya bergantung pada jumlah lift, pola penggunaan, dan tingkat keamanan yang dibutuhkan. Berikut ini tiga cara membedakan jenis lift access control yang beredar di pasaran.

1. Berdasarkan Jumlah Lift

Kebutuhan gedung kecil dan gedung tinggi jelas berbeda, sehingga jumlah lift akan menentukan arsitektur sistemnya.

Single elevator cocok untuk gedung kecil, ruko bertingkat, atau rumah. Satu lift diatur lewat kartu, PIN, atau biometrik, lengkap dengan jadwal jam operasional. Biaya untuk satu lift lebih ringan dan instalasinya cepat.

Lalu ada multiple elevator yang umum dipakai di gedung besar dengan banyak lift. Semua unit dikelola dari satu platform, dengan level akses berbeda untuk setiap lantai dan pengguna. Monitoring terpusat juga lebih mudah. Konsekuensinya, perencanaan kabel dan integrasi harus matang sejak awal.

2. Berdasarkan Pola Penggunaan Lift

Tidak semua lift dipakai dengan cara yang sama. Ada yang terbuka untuk umum, ada yang hanya untuk kalangan tertentu.

Public elevator dengan akses lantai tertentu tetap bisa dipakai publik, tetapi beberapa lantai terkunci untuk pengguna berizin saja. Ini umum di mal yang punya lantai kantor di atasnya.

Private elevator dengan full access hanya melayani pengguna berizin ke semua lantai, misalnya lift khusus direksi. Sedangkan private elevator dengan selective access membatasi tiap pengguna ke lantai tertentu, pilihan ideal untuk gedung multi-tenant.

Destination control system (DCS) memungkinkan penumpang memasukkan penumpang memasukkan lantai tujuan sebelum masuk lift. Sistem lalu mengelompokkan penumpang agar arus lebih lancar dan kerumunan berkurang. Perlu dicatat, biasanya DCS menuntut integrasi lebih dalam dengan pengendali grup lift, sehingga koordinasi dengan vendor lift sangat penting.

Baca juga: 5 Penggunaan Face Recognition untuk Sektor Keamanan dan Sebagai Access Control

3. Berdasarkan Metode Otorisasi

Metode otorisasi menentukan seberapa sulit sistem dibobol. Semakin personal kredensialnya, semakin sulit disalahgunakan.

Elevator fob adalah kunci elektronik berbasis RFID, Bluetooth, atau NFC yang praktis dibawa. Card reader memakai kartu ID atau keycard yang bisa diatur untuk lantai tertentu. Keduanya mudah dikelola, tetapi kartu bisa dipinjamkan ke orang lain.

PIN access memakai kode angka. Murah, tetapi kode juga mudah dibagikan atau diintip. Maka dari itu, PIN lebih aman bila dikombinasikan dengan metode lain.

Biometric access punya beberapa pilihan metode, bisa pakai sidik jari, wajah, atau iris. Ini opsi terkuat karena kredensialnya tidak bisa dipinjamkan, cocok untuk lantai berisiko tinggi seperti ruang server. Touchless elevator lewat aplikasi ponsel lebih higienis dan sering dipasangkan dengan DCS, tanpa menekan tombol fisik.

Praktik yang kami sarankan adalah dengan kombinasi. Kartu untuk lantai umum, biometrik untuk lantai sensitif. Jangan lupa, pintu tangga darurat di lantai yang sama juga perlu diperhatikan. Jika lift terkunci rapat tetapi tangga terbuka bebas, celahnya cuma berpindah tempat. Karena itu pengaturan akses sebaiknya dirancang secara menyeluruh, mencakup lift, tangga, dan pintu area sensitif di setiap lantai.

DImana Saya Dapat Berkonsultasi Tentang Lift Access Control?

Jika Anda butuh mitra yang paham lift access control dari sisi perangkat hingga instalasi, langsung saja hubungi tim ahli Camarjaya. Kami distributor resmi sistem keamanan profesional dan melayani konsultasi, instalasi, konfigurasi, sampai integrasi. Jadi, kami tidak hanya sekadar menjual perangkat.

Salah satu solusi andalannya adalah Modul ACTpro IOM. Satu modul mendukung 8 input dan 8 output, dan satu controller ACTpro bisa dipasangkan hingga 4 modul, totalnya 32 input dan 32 output. Untuk kebutuhan lift, satu modul IOM bisa menangani 8 lantai.

Dengan modul ini, lift access control juga bisa dihubungkan ke sistem alarm, CCTV, dan aplikasi switching lain, sehingga gedung dapat dikendalikan secara terpadu. Jika Anda ingin tahu lebih jauh tentang ekosistemnya, lihat juga produk access control kami.

Dari berbagai proyek kontrol akses yang umum terjadi di industri, kesalahan klasiknya ada tiga, yaitu memilih perangkat sebelum memahami sistem lift, tidak menguji prioritas alarm kebakaran setelah instalasi, dan tidak menyiapkan prosedur pencabutan akses saat karyawan resign atau tenant pindah. Ketiganya murah dicegah, tetapi mahal jika dibiarkan.

Sebelum konsultasi, siapkan lima informasi ini agar penawaran akurat:

  • Jumlah  lift dan lantai
  • Merek lift
  • Jumlah pengguna
  • Area yang ingin dibatasi
  • Sistem alarm kebakaran yang sudah terpasang

Dengan begitu, tim kami bisa memetakan solusi lift access control yang tepat sejak survei pertama.

Baca juga: Access Control Security System: Begini Masa Depannya Menurut Ahli

Jangan tunggu ada insiden baru bertindak. Hubungi Camarjaya via Whatsapp sekarang juga untuk konsultasi dan survei pemasangan lift access control di gedung Anda, gratis.

Bagikan artikel ini ke:

Dapatkan Dukungan

Ada Pertanyaan? Yuk, Hubungi Kami!

*Customer service tersedia selama 24 jam